Kamis, 29 Mei 2008

Sebait Doa

Doa Rabiah Al-Adawiyah :

Ya.. Allah, jadikanlah usiaku yang terakhir sebagai usia yang terbaik dalam hidupku, jadikanlah ibadahku yang terakhir sebagai ibadah yang terbaik dalam hidupku dan jadikanlah hariku yang terbaik yaitu hari ketika aku bertemu dengan Engkau.


Selasa, 13 Mei 2008

Aku Tidak Lebih Dulu ke Surga

*** dari seorang sahabat, untuk para sahabat sebagai bahan renungan ***

Baca dan Renungkan
  • Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.
  • Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.
  • Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.
  • Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan .........
  • Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. "Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku," pikirku mantap.
  • Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.
  • Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.
  • Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.
  • "Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku," aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain." Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.
  • Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata "maaf" dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak."
  • Masya Allah murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jamaah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. "Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara," jelasnya lagi.
  • Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, "Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu."
  • Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya.
  • Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jamaah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.
  • Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini.
  • Termasuk Manakah Kita?

Senin, 05 Mei 2008

Sekilas Tentang Poligami

Poligami merupakan suatu istilah yang berarti memiliki banyak istri atau beristri lebih dari satu. Sebenarnya poligami telah ada dan dilaksanakan sejak jaman dahulu. Bahkan sebelum Surat An-Nisa ayat 3 (yang sering dijadikan rujukan bahwa Agama Islam membolehkan adanya poligami) diturunkan. Raja atau kaisar jaman dahulu pasti memiliki seorang permaisuri dan beberapa selir. Hal itu sudah merupakan bukti adanya poligami. Oleh karena itu Surat An-Nisa ayat 3 diturunkan untuk mengatur hal tersebut, bahwa umat Islam diperkenankan melakukan poligami dengan batasan hanya sampai empat orang istri saja.
Istilah poligami mulai marak kembali di Indonesia dan banyak diekspose media kira-kira setelah Aa’ Gym menikah lagi. Banyak masyarakat khususnya kaum ibu yang protes dan mengadu sampai ke Bapak Presiden bahkan minta dibuatkan undang-undang anti poligami segala. Film Ayat-Ayat Cinta yang booming di seluruh gedung bioskop se-Indonesia baru-baru ini pun turut membangun animo masyarakat tentang poligami.
Banyak yang keliru mengambil pengertian dari Surat An-Nisa ayat 3 tersebut. Kebanyakan orang hanya memahaminya setengah-setengah. Mereka hanya beranggapan bahwa poligami itu ada di dalam salah satu ayat Al-Quran, berarti poligami itu ada dalam Islam. Atas dasar itulah lantas banyak kaum pria yang melakukan poligami, atau sekedar bercita-cita ingin poligami. Tanpa memperdulikan syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi. Dengan alasan merupakan syariat Islam dan mencontoh Nabi Muhammad SAW. Bahkan ada yang sampai mengatakan, wanita yang sholehah adalah wanita yang mau dipoligami.
Padahal jika dipahami lebih jauh ternyata ayat tersebut bukan menganjurkan untuk poligami. Malainkan membolehkan adanya poligami dengan syarat, ketentuan dan kewajiban yang harus dipenuhi. Poligami merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh orang yang amat sangat membutuhkannya. Suatu kondisi yang dikhawatirkan akan menjerumuskan seseorang ke lembah zina.
Salah satu syarat yang harus dipenuhi diantaranya adalah memiliki seorang istri yang sakit parah dalam waktu lama sehingga tidak bisa melayani suaminya atau memiliki istri yang mandul (tidak bisa memberikan keturunan) maka bolehlah melakukan poligami dengan meminta ijin istri pertama terlebih dahulu. Ketentuan lain yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam Islam membolehkan mengumpulkan istri atau melakukan poligami maksimal empat istri saja. Jika lebih dari empat maka tidak dibolehkan.
Kewajiban yang mengikuti pelaksanaan poligami adalah harus bisa berbuat adil kepada semua istri tersebut. Adil bukan hanya berarti sama rata dalam bilangan sandang, pangan dan papan saja. Tetapi lebih jauh harus bisa berbuat adil dalam memberikan rasa cinta, kasih dan sayang. Memberikan ketenangan serta perasaan nyaman. Inilah yang sulit. Berbuat adil dalam hal-hal yang sifatnya bisa ditakar lebih mudah. Karena tinggal menyamakan jumlahnya saja. Sedangkan adil terhadap perasaan bagaimana? Sulit bukan? Karena tidak ada ukurannya. Dia hanya bisa dirasakan dengan hati. Yang mana hati setiap manusia berbeda-beda. Misalkan pada sebuah kasus ada seorang suami yang merasa telah berbuat adil dalam hal kasih sayang terhadap kedua istrinya, istri pertama bisa legowo (terima) dengan kasih sayang yang sudah diberikan suaminya, sedangkan istri kedua merasa belum diperlakukan dengan adil, maka berarti suami disini dinilai belum bisa berbuat adil terhadap kedua istrinya. Karena ada seorang istrinya yang merasa teraniaya. Oleh karena itu ayat ketiga Surat An-Nisa tersebut diiringi dengan kalimat jika dikhawatikan tidak dapat berbuat adil maka cukuplah seorang istri saja karena itu lebih menjaga dari berbuat aniaya.
Wallahu a’lam.