Namaku
Shakvi Dian Farera, biasa dipanggil Vira. Sedari kecil aku punya cita-cita kelak
ingin menjadi seorang pegawai bank. Menurutku, pegawai bank itu baik, ramah, cantik
dan keren. Pakaian serta dandanannya selalu modis. Bisa membantu orang lain
dalam mengelola keuangan. Pokoknya keren abis deh.
Selepas
SMA, aku pun melanjutkan kuliah mengambil program study Manajemen Keuangan dan
Perbankan di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kota Malang.
Kebetulan rumahku berada di Kabupaten Lumajang. Malang - Lumajang cuma sekitar tiga jam perjalanan, jadinya
tiap minggu aku bisa pulang buat ketemu orang tua. Maklum, namanya juga anak
tunggal, aku nggak bisa jauh-jauh dari mama.. Hehe..
Mama
bukan termasuk orang yang sangat fanatik terhadap agama. Sedari kecil mama
mendidikku dengan kebebasan. Kebebasan untuk berpendapat dan memilih. Kebebasan
yang bertanggungjawab tentunya. Mama selalu mengarahkan, walau akhirnya aku tak
sependapat dengan mama selama pendapat atau pilihanku bukan hal yang
menyimpang, mama akan tetap mendukung. Tak pernah sekalipun mama memaksakan
kehendaknya kepada ku. Sebenarnya mama telah membiasakanku untuk memakai
jilbab, sewaktu lebaran misalnya, mama pasti membelikanku satu pasang busana
muslim komplit dengan jilbabnya. Busana muslim tersebut hanya aku pakai untuk silaturrahmi
ke rumah saudara dan tetangga. Selepas lebaran?? Busana muslim itu hanya tergantung
menghiasi lemari.
Mama
sering membujukku untuk memakai jilbab ke sekolah, tapi aku selalu menolak dan
selalu membuat alasan kalau berjilbab itu hanya untuk ke pengajian atau acara
keagamaan saja. Ke sekolah dengan memakai jilbab sama dengan nggak keren,
terbatas, dan nggak bisa ngapa-ngapain. Mau ikutan nge-band, nge-dance,
cheerleader, mayoret, atau kegiatan ekskul lainnya jadi nggak bisa. Terbatas
banget deh.. Jilbaber yang kulihat di sekolahku kegiatannya hanya mengurus SKI
(Seksi Kerohanian Islam) dan hanya jadi penunggu masjid sekolah. Jadinya aku ogah
bin males kalau disuruh berjilbab. Namun, akhirnya semua itu berubah. Kelas 3
SMP aku memutuskan berjilbab, tepat seminggu menjelang ujian akhir nasional.
Iya,
seminggu menjelang ujian akhir nasional aku mulai memakai jilbab baik itu ke
sekolah, di rumah atau kemanapun. Entah, kok tiba-tiba aku jadi malu pakai rok
biru dongker selutut lagi. Entah, mengapa setiap pelajaran agama aku selalu
merasa tersindir oleh ucapan Bu Hanifah guru agamaku. Bu Hanifah pernah bilang
bahwa anak perempuan yang telah baligh itu wajib menutup aurat. Nah aku? Yang
sudah baligh sejak dua tahun lalu masih tetap saja begini. Akhirnya aku mantap
untuk berjilbab. Aku sudah tak peduli dengan seonggok alasan yang biasanya aku
lontarkan kepada mama. Aku sudah tak peduli dengan nge-band, nge-dance,
cheerleader, mayoret, dan lain sebagainya. Tekatku sudah bulat, aku tak peduli
jika nanti dikeluarkan dari grupku. Lagian bentar lagi kita akan lulus, dah
nggak bersama lagi lagi dengan mereka. Ntar di SMA aku akan bikin grup band,
dance dan cheer khusus jilbaber dengan lagu dan gerakan yang lebih santun
tentunya.
Walhasil
setelah aku sampaikan niatku berjilbab kepada mama, mama mendukung banget. Dan
langsung membelikanku seperangkat pakaian seragam lengkap dengan jilbabnya.
Kata mama niat baik nggak boleh ditunda-tunda. Kalau ditunda ntar keburu hilang
digondol setan, ntar malah nggak terlaksana itu niat, malah nggak jadi ada
perubahan dong.. hehe.. (bisa aja mamaku ini..)
Ah
mama, aku jadi teringat padamu. Orang nomor satu dalam hidupku. Teringat
kata-kata beliau saat aku berpamitan minta doa restu mengikuti ujian akhir
nasional SMP. "Vira, mama bangga kepadamu. Kamu sekarang sudah baligh,
sudah semakin dewasa, sudah mau berhijab. Pesen mama, jagalah hijabmu. Kalau
sudah memutuskan berhijab maka berhijablah dengan sungguh-sungguh, dan jangan
dilepas lagi. Janganlah takut, karena hijab tak akan membatasi aktifitas dan
kreatifitasmu. Jangan pernah khawatir tentang bagaimana masa depanmu. Karena
Allah selalu bersama hamba-Nya yang mentaati-Nya. Belajarlah dengan tekun,
insyaallah cita-cita masa kecilmu akan tercapai. Semoga kelak kamu bisa menjadi
pegawai bank yang sholihah ya nak. Aamiin" ucap mama sambil mengecup
keningku.
Terima
kasih Ya Allah, atas semua hidayah dan karunia-Mu. Terima kasih mama, atas
semua doa dan kasih sayangmu. Alhamdulillah, cita-cita kecil Vira telah
terwujud. Shakvi Dian Farera sekarang telah menjadi pegawai bank syariah. Bisa
berkarya dan tetap menjaga syariah. (by : ernez mardeiya @nezzaaza)